Minggu, 27 April 2014
PENGKAJIAN RUTIN KADER
PENGKAJIAN PERTAMA
Tema
Pemateri
Hari/tgl
Tempat
Jumlah Peserta yang Hadir Kajian Historis Muhammadiyah Minang Kabau
Drs. H.RB.Khatib Pahlawan Kayo
Sabtu/5 April 2014-04
Ruang Rapat Gedung Dakwah Muhammadiyah (tuan rumah: PWA MPK)
29 orang (PWM-PWA-AMM) Keterangan:
Acara dimulai pukul 16.30 Wib
Door Prize dimenangkan oleh: Derri Rizal (PW.PM)
Hadiah:
Buku Muhammadiyah dari masa ke masa
Ringkasan Materi:
A. Benih Pembaharuan di Minangkabau
Menurut Prof. Hamka gerakan pembaharuan di Minangkabau telah dimulai sejak tahun 1803 waktu kembalinya tiga orang santri dari Mekkah yaitu Haji Miskin Pandai Sikek, Haji Sumanik Tanah Datar dan Haji Piobang Lima Puluh Kota. Faham Pembaharuan yang mereka sebarkan adalah ajaran Syaikh Muhammad bin Abdil Wahab yang prinsip gerakannya kembali pada al-Qur’an dan as-Sunnah. Gerakan ini dimaksudkan untuk membersihkan masyarakat dari adat pusaka Jahiliyah seperti mengadu ayam, meminum tuak dan berbagai bentuk perbuatan syirik, khurafat dan bid’ah.
Faham pembaharuan ini telah tumbuh dan sempat berkembang di seluruh pelosok Minangkabau dalam bentuk pemikiran sampai masuknya penjajah Belanda pada tahun 1821. Ketika Belanda berhasil menguasai sebagian ranah Minangkabau, gerakan ini mengkristal dalam bentuk sikap dan aksi menantang penjajahan. Perlawan ini kemudian dikenal dengan perang Paderi yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol (1821-1837). Karena khawatir terhadap kekuatan Paderi, Belanda membuat propoganda bahwa Perang Paderi adalah perang antara kaum agama (Islam) dengan kaum Adat dan Belanda datang atas permintaan kaum adat. Keberhasilan mengadu domba itu akhirnya memperlemah kesatuan dan persatuan masyarakat Minang dan kaum Paderi mengalami kekalahan, tapi bukan berarti menyerah.
Kekalahan perang diterima sebagai suatu kenyataan namun ada hikmah bahwa orang Minangkabau sejak gerakan pembaharuan mulai diperkenalkan memang semakin banyak yang berfikir logis dan kritis, mereka mulai sadar bahwa ummat Islam tidak boleh taklid dan fanatik buta, tapi harus mencari ilmu ke sumbernya, karena ajaran Islam merupakan rahmatan lil alamin dan anti penjajahan. Untuk itu Islam harus digali sehingga memperoleh kemurniannya. Di samping terus mendalami Islam di negeri sendiri, mulailah terfikir kembalu untuk mengirim kader-kader muda di Mekkah antara lain disponsori oleh Ahmad Khatib (asal Balai Gurah Agam) sekitar tahun 1876, kemudian disusul oleh adik sepupunya Taher Djalaluddin dan yunior-yunior lain.
Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabauwy kemudian berhasil menjadi guru dan Imam Masjid Haram. Di antara murid-muridnya yang amat terkemuka menurut HAMKA adalah Syaikh Abdullah Ahmad (Padang), Syaikh Muhammad Djamil Djambek (Bukittinggi), Syaikh Abdul Karim Amrullah (maninjau) dan Syaikh Muhammad Thaib (Sungayang). Mereka hampir semuanya kembali ke tanah air pada awal abad ke-20 dan begitu sampai di Minangkabau masing-masing bergerak menyebarkan faham pembaharuan melalui pemikiran-pemikiran yang disampaikan lewat pengajian-pengajian dan majalah serta buku-buku yang diterbitkan antara lain Majalah Al-Munir (1911)oleh Syaikh Abdullah Ahmad di Padang yang diilhami oleh Majalah al-Imam yang diterbitkan oleh teman sefahamnya Syaikh Thaher Djamaluddin di Singapore, karena yang satu ini tidak kembali ke Minangkabau tetapi menetap di Johor kemudian ke Singapore. Kedua majalah ini dalam penampilan isinya diwarnai oleh visi dan missi majalah al-mannar yang diterbitkan oleh Syaikh Rasyid Ridha di Mesir.
Faham pembaharuan memang cepat tumbuh di Minangkabau karena ditakuiti oleh pengaruh surau sebagai pusat pembinaaan generasi muda dan madrasah yang dipimpin oleh para ulama-ulama muda tersebut seperti Tahawalib Padang Panjang, Parabek, Sungayang, dan Perguruan Adabiyah di Padang. Mata rantai sejarah pembaharuan inilah yang berlanjut terus menerus hingga sekarang tanpa henti yang direntang panjang oleh para kader yang terbentuk dalam koridor pemikiran yang objektif, kritis dan dinamis. Meskipun tidak semua mereka bergabung dalam wadah yang sama, namun tetap satu dalam kosep pembaharuan yang kemudian berhasil menjadikan Minangkabau sebagai pusat lahirnya kader-kader ulama dan pemimpin-pemimpin Indonesia.
B. Berdirinya Muhammadiyah
Ketika Syaikh Abdul Karim Amrullah (ayahnya HAMKA) salah seorang tokoh pembaharuan itu berkunjung ke Yogyakartatahun 1917 disambut oleh teman sefahamnya KH Ahmad Dahlan yang telah mendirikan Muhammadiyah sejak tahun 1912. Selama tiga hari menjadi tamu Muhammadiyah di Kotagede Yogyakarta, beliau mendapat sambutan yang luar biasa dan beliauoun sangat kagum dengan gerakan Muhammadiyah yang reformis dan modernis itu. Tak lama kemudian setelah kembali ke Minangkabau beliau merintis berdirinya Sumatera Thawalib bersama Zainuddin Labai El Yunusi di Padang Panjang.
Kemudian dalam jarak waktu yang tidak terlalu jauh seorang murid dan juga menantu beliau Ahmad Rasyid Sutan Mansur (1921) berangkat merantau ke Jawa dan menetap di Pekalongan. Allah mentakdirkan di Pekalongan inilah AR Sutan Mansur mengenal Muhammadiyah lansung dari pendirinya KH Ahmad Dahlan yang datang secara berkala ke Pekalongan melakukan pembinaaan organisasi dan rohanisasi. AR Sutan Mansur yang cerdas dan telah lama mendapat tempaan faham pembaharuan ketika belajar dengan menantunya itu, setelah mendengar wejangan dari KH Ahmad Dahlan yang campin sekali menggembleng dan membangkitkan semangat pembaharuan dalam Islam lansung tertarik dan menyatakan masuk Muhammadiyah. Yang membuat AR Sutan Mansur tertarik adalah, selama ini dia telah banyak belajar ilmu dan hukum dalam Islam, tetapi belum ada gerakan untuk mengamalkannnya dan dalam Muhammadiyah ternyata kental sekali memadukan antara iman dan ilmu yang diterjemahkan dalam praktek kehidupan bermasyarakat. Keshalehan dan kecerdasan AR Sutan Mansur akhinrya menjadikan dia orang penting di Pekalongan hingga dipercaya sebagai ketua Cabang Muhammadiyah Pekalongan, bahkan kemudian hari dia tercatat salah seorang ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Periode 1953-1959 yang berkantor di Yogyakarta.
Setelah merintis berdirinya sebuah perkumpulan Islam di Sungai Batang Tanjung Sani Maninjau (1924) yang diberi nama ”Sendi Aman Tiang Selamat”. Syaikh Abdulkarim Amrullah tahun berikutnya (1925) datang lagi ke Pekalongan melihat anak dan menantunya yang telah memimpin Muhammadiyah itu. Kesempatan ini juga dimanfaatkan melancong ke Yogyakarta kali kedua guna lebih mendalami hakekat gerakan Muhammadiyah yang semakin merakyat di Tanah Air. Setelah kembali ke Pekalongan dari Yogyakarta beliau mengajak anak dan menantu beliau AR Sutan Mansur pulang ke Minangkabau, ikut bersama rombongan beliau adik beliau Ja’far Amrullah dan Marah Intan Dt. Nan Bareno, Dt.Majolelo dan Sutan Marajo.
Setelah sampai di Minangkabau, beliau menetap di Padang Panjang mengayomi Sumatera Thawalib, namun beliau tetap saja memberi semangat agar Muhammadiyah segera didirikan, maka atas anjuran beliau diadakan musyawarah di Sungai Batang Tanjung sani tanggal 29 Mei 1925 dipimpin oleh AR Sutan Mansur dan dihadiri juga oleh pemuka-pemuka masyarakat termasuk rombongan yang baru pulang dari rantau. Musyawarah tersebut akhirnya menelorkan kesepakatan bahwa perkumpulan yang bernama “Sendi Aman Tiang Selamat” yang ketuanya adalah Haji Yusuf Amrullah (adik kandung Syaikh Abdul Karim Amrullah) lansung ditukar namnya jadi Muhammadiyah. Inilah Muhammadiyah pertama yang lahir di Minangkabau dengan susunan pengurusnya adalah: Pemuka I dan II, Dt. Panghulu Basa dan Dt. Sidi Bandaro, Juru Surat I dan II, Zainudin Kari Pamuncak dan Ismail Sutan Jamaris, Juru uang dipegang oleh Sutan Palembang. Pengurus ini dibantu oleh 12 orang komisaris.
Sebagai organisasi yang berasas Islam dan bertekad mengamalkan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur’an dan as-Sunnah itu, pada tahun pertama telah berhasil mendirikan sebuah Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah dengan menggunakan lima buah rumah kepunyaan warga dan satu di antaranya milik Syaikh Abdul Karim Amrullah. Madrasah ini menampung murid 235 orang dengan tenaga pengajar empat orang dipimpin oleh Muhammad Yatim Sutan Basa.
Setelah berdirinya Muhammadiyah di Sungai Batang Tanjung Sani, kemudian diikuti berdirinya Muhammadiyah cabang Padang Panjang yang dipelopori oleh Saallah Yusuf Sutan Mangkuto dan Dt. Sati dalam sebuah musyawarah di rumah Syaikh Abdulkarim Amrullah di Gatangan Padang panjang tanggal 2 Juni 29126 Muhammadiyah cabang Padang Panjang inilah Cabang pertama yang mendapat pengesahan dari Hoofbestur Muhammadiyah Yogyakarta dengan Besluif no 36 tertanggal 20 Juli 1927.
Muhammadiyah Padang Panjang mulai menata diri melaksanakan aktivitasnya dengan membangun sebuah kantor yang refresentatif terletak di jalan Guguk Malintang sebuah rumah bekas Hotel Merapi kepunyaaan seorang Belanda. Inilah merupakan kantor pertama Muhammadiyah di Minangkabau. Kegiatan berikutnya adalah mendirikan sebuah sekolah HISpada pertengahan tahun 1927 yang dipimpin oleh seorang guru ahli utusan dari Pengurus Besar Muhammadiyah Yogyakarta namanya Prawoto Adiwidjoyo. Pada tahun 1930Muhammadiyah membeli sebidang tanah kepunyaaan Belanda seharga F.300.tanah ini terletak di belakang penjara yang kemudian dikenal dengan Kompleks kauman Padang Panjang.
Pertumbuhan organisasi yang semakin berkembang membawa dampak positif dengan munculnya Muhammadiyah di beberapa tempat antara lain di Simabur, Bukittinggi, Kuraitaji, Kubang Suliki, Padang Luar Kota, Lintau, Payakumbuh, Rao Pasaman, Sulit Air, matur Agam, Talu Pasaman, Kubung Solok, Limo Kaum Batusangkar, Pulau Punjung dan Lakitan Pesisir Selatan. Semuanya berdiri antara tahun 1926 hingga tahun 1937.
Muhammadiyah Minangkabau sebagai Gerakan Islam, sejak awal telah melaksanakan misinya dalam proses pembaharuan (tajdid) untuk kembali kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah, terutama difokuskan dalam pemberdayaan sumberdaya insani yang meliputi berbagai aspek dan sektor seperti yang kita kenal melalui gerakan kepanduan Hizbul Wathan., Muballigh dan guru-guru Muhammadiyah. Upaya tersebut dibarengi dengan mendirikan Pusat Gerakan sebagai markas di Kompleks kauman Padang Panjang untuk pembinaan kader khusus melalui Tanligh Shcool (1930-1936) yang kemudian berubah nama menjadi “Kulliyatul Muballighin”, untuk peringkat Tsanawiyah dan Aliyah dan Fakultas Falsafah dan Hukum untuk tingkat Perguruan Tinggi. Fakultas yang diresmikan berdirinya tanggal 18 November 1955. Fakultas ini merupakan Fakultas Muhammadiyah pertama di Indonesia.
Upaya dakwah pembaharuan dalam rangka menggerakkan misi tersebut di Minangkabau dilakukan secara bersama-sama dengan organisasi yang sefaham. Meskipun masing-masing dalam nama dan wadah yang berbeda namun tetap satu dalam tujuan. Pada zaman penjajahan Belanda dan pendudukan Jepang misalnya, Muhammadiyah aktif menggerakkan potensi group-group (ranting) tidak saja mendorong anggota-anggotanya sebagai pensuplay makanan dan lasykar sukarelawan , tapi juga para pemimpinnya tampil sebagai tokoh-tokoh politik yang bergabung dalam organisasi pergerakan Persiapan Kemerdekaaan. Beberapa nama dapat disebutkan antara lain: Buaya AR Sutan Mansur, Duski Samad, SY Sutan mangkuto, RI DT Sinaro Panjang, Oedin, HA MalikAhmad, Haroun Al-Ma’any, ZAS H.Darwas Idris dan lain-lain.
Belanda pun sulit menghalangi gerak amal Muhammadiyah, karena Muhammadiyah bekerja sangat aktif membantu masyarakat dalam bidang sosial dan pendidikan. Dalam pendidikan Muhammadiyah menerapkan kurikulum pemerintah dan mematuhi semua peraturan yang berlaku. Strategi ini dapat melicinkan jalannya dakwah dan membuka peluang banyaknya sekolah Muhammadiyah yang mendapat subsidi dari pemerintah dan ijazahnya disamakan dengan ijazah negeri. Muhammadiyah mempertimbangkan jika subsidi tidak diterima maka subsidi itu akan diambil oleh sekolah-sekolah dari agama lain sementara kita tahu uang itu berasal dari rakyat kita sendiri.
Ketika akan berakhir peperangan dan dalam persiapan mencapai kemerdekaan, pemerintah mendirikan PETA. Banyak anggota Muhammadiyah yang direkrut jadi perwira dan bintara yang kemudian menjadi modal berdirinya TNI. Sejarah mencatat untuk tingkat Nasional salah seorang pemuda Muhammadiyah yang ikut sebagai perwira PETA akhirnya dipercaya menjadi bapak TNI yaitu panglima besar Jenderal Sudirman. Begitu juga di Minangkabau banyak sekali anak Muhammadiyah yang menjadi TNI yang tadinya bermula dari Perwira dan bintara PETA. Memang sudah fitrahnya Muhammadiyah terus menerus menjalankan dakwahnya melalui berbagai bentuk, kiat dan strategi amal usaha yang tak pernah henti dengan semangat yang tak kenal menyerah. Karena bagi Muhammadiyah berdakwah bukan hanya bertabligh. Dia tumbuh dan tenggelam bersama gelombang kehidupan umat, diapun bangkit dan berkembang juga bersama dinamika semangat rasionalitas dan realitas kondisi ummat.
Agaknya seperti kurang yakin, tapi begitulah kenyataannnya, ketika usia Muhammadiyah di Minanngkabau masih balita (4 tahun) dukungan warga dan simpatisannya telah membuat suatu kejutan dimana dengan semangat yang luar biasa, melamar menjadi tuan rumah Congres ke-19 Muhammadiyah se-Indonesia. Lamaran ini didukung oleh H.Fachroeddin dan HM Yunus Anies yang telah keliling di Minangkabau sebelum berlansungnya Muhammadiyah ke-18 di Solo. Pada Congres ke-18 ini hadir utusan-ututsan dari Minangkabau antara lain Cabang Sungai Batang Tanjung Sari, Padang Panjang, Simabur, Kuraitaji dan Lakitan. Atas Argumentasi dari utusan-utusan inilah akhirnya Congres ke-19 ditetapkan di Bukittinggi tanggal 14-21 Maret 1930. Salah satu keputusan penting dalam kongres tersebut adalah untuk pertama kalinya Muhammadiyah mengangkat konsul di daerah-daerah dengan sebutan “Consul Hoofbestur Muhammadiyah” tercatat nama-nama penting sebagai konsul pertama dalam Muhammadiyah antara lain AR Sutan Mansur untuk Minangkabau dan Hasan Din. Yang kemudian menjadi mertuanya Bung Karno untuk Benkulu.
Sisi lain Congres ini adalah, munculnya fenomena baru dalam Muhammadiyah yaitu, “Perempuan Berpidato di hadapan Majelis Laki-laki”. Rencana ini telah menimbulkan masalah karena penasehat Muhamadiyah Minangkabau DR.Abdul Karim Amrullah telah berfatwa: ”Haram hukumnya perempuan berpidato di hadapan majelis laki-laki”. Fatwa itu pun telah tersebar luas dalam buku karangan beliau: ”Cermin terus; Berguna untuk Pengurus, Pencari Jalan Lurus”. Sedangkan yang akan berpidato pada Rapat umum congres ini adalah Siti Rasyidah dari ‘Aisyiyah Padang Panjang yang usianya baru 19 tahun dan belum menikah. Lama sekali perdebatan antara DR.Abdul Karim Amrullah dengan KH Sutan Mansur dari pengurus besar Muhammadiyah, hampir saja tak ada keputusan, tapi karena yang berdebat itu adalah ulama sama ulama, akhirnya disepakati bahwa hukum yang haram itu menjadi makruh. Meskipun demikian ulama-ulama yang mendukung gerak Muhammadiyah di Minangkabau sangat hati-hati menjalankan hukum ini. Sebelum majelis perdebatan ini bubar, Syaikh Muhammad Djamil Djambek tampil bicara yang pada mulanya merendah sebagai orang tua, tapi kemudian mengingatkan bahwa Muhammadiyah akan sulit bergerak dan wibawa ulama akan menurun di Minangkabau jika dalam congres ini perempuan dibolehkan berpidato di hadapan umum. Akhirnya demi kemashlahatan umat dan kelansungan hidup Muhammadiyah ditetapkan semuanya sepakat menggagalkan Siti Rasyidah berpidato di depan Rapat Umum Congres ke-19.
Semangat kesuksesan menyelenggarakan Congres ke-19 tersebut semakin membuat bersinarnya Matahari Muhammadiyah yang dilingkari dua kalimat Syahadat di Minangkabau. Muhammadiyah tumbuh dimana-mana tidak lagi terbatas selingkar Minangkabau, tapi kader dan muballigh keluaran Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah Padang Panjang diundang untuk mendirikan Muhammadiyah sampai Tapanuli Selatan, Jambi dan Riau bahkan Sumatera Utara dan Aceh. Di sinilah peran penting masa lalu dari Kulliyatul Muballighien Muhammadiyah Padang Panjang yang tidak sedikit memberikan kontribusi terhadap pengembangan Muhammadiyah di Indonesia, setelah kemerdekaan banyak bermunculan alumni Kulliyatul Muballighien ini dimana-mana baik sebagai Pegawai Negeri, maupun sebagai Muballigh dan Guru Agama di antaranya di Sulawesi, Kalimantan bahkan Irian Jaya.
C. Perkembangannya Kini
Kini Muhammadiyah Minangkabau (Sumatera Barat) dengan perangkat organisasi yang terstruktur, terus melanjutkan amal ushanaya dalam berbagai bidang seperti pendidikan, mualimin dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi, bidang sosial seperti Panti Asuhan, bidang keagamaan seperti Bimbingan Haji dan Tabligh, membangun mesjid dan mushala, bidang kesehatan membangun rumah sakit dan Poliklinik, bidang ekonomi membangun BPRS, BTM/BMT serta koperasi. Tidak kalah pentingnya dalam bidang kaderisasi seperti Nasyiatul Aisyiyah, Pemuda dan Tapak Suci Putra Muhammadiyah, IRM, dan IMM. Semua itu telah mendapat tempat dihati sebagian besar umat Islam Sumatera Barat. Hal ini terbukti dengan perhatian dan kepercayaan masyarakat yang ditujukan kepada Muhammadiyah, baik melalui sokongan dana maupun dengan sambutan yang menggembirakan.
Perhatian dan kepercayaan serta sambutan tersebut telah tumbuh dan berkembang tanpa melihat siapa yang memimpin persyarikatan ini. Yang jelas sikap itu didasarkan atas keterikatan moral islami atau ukhuwah islamiyah, setelah memperhatikan sepak terjang Muhammadiyah yang sangat piawai dalam merebut kepercayaan umat. Muhammadiyah tidak saja semakin banyak dan meningkatkan amal usahanya, tapi juga semakin luas wilayah jangkauannya dan semakin bersemi di hati publik.
Kini Muhammadiyah Sumatera Barat mempunyai 19 Daerah, 112 Cabang dan 577 Ranting dengan jumlah anggota kurang lebih dua setengah juta orang. Muhammadiyah Sumatera Barat sejak berdirinya hampir 80 tahun telah dipimpin silih berganti oleh 16 orang ketua, masing-masing Saalah Yusuf Sutan Mangkuto, AR Sutan Mansur, HAMKA, HA.Malik Ahmad, Muhammad Yatim, H. Haroen El-Ma’any, Drs. Djam’an Shaleh, HAK Dt. Gunung Hidjau, H.Zainoel ‘Aibidn Syu’aib, H.Hasan Ahmad, HM Idris Manaf, H.Amir Ali, H. Radhin Rahman, Prof.Drs.Nur Anas Djamil dan DR.H.Shofwan Karim Elha, MA
Sesuai dengan dinamika berfikir masyarakat dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia semakin cerdas dan kritis, mungkin saja akan datang masanya setelah mencermati secara komperatif realita menunjukkan bahwa Muhammadiyah bukanlah satu-satunya organisasi tempat berjuang dan beramal. Oleh karena itu ke depan kepemimpinan yang solid, organisasi yang kokoh dan administrasi yang rapi perlu ditingkatkan kualitasnya dengan menghadirkan tenaga-tenaga yang berilmu, berdedikasi dan memiliki komitmen moral keislaman serta profeisonalitas kerja yang tinggi.
Langkah-langkah ke arah itu perlu diupayakan antara lain dengan melakukan berbagai pembenahan dan penataan terhadap struktur organisasi, perundang-undangan, penyatuan visi dan missi serta peningkatan kualitas pimpinan dan anggota. Semuanya itu insyalallah dapat diwujudkan secaara bertahap melalui latihan-latihan kepemimpinan dan kaderisasi ulama Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam secara berjenjang bagi setiap pemegang amanah persyarikatan.
Kita wajib mensyuktuti nikmat usia panjang yang diberikan Allah kepada Persyarikatan kita, sehingga memungkinkan kita dapat menjadikannya sebagai wadah tempat beramal dan beribadah yang indah dan sejuk, namun upaya introspeksi dan evaluasi tentang bagaimana Muhammadiyah kini dan dulu di Minangkabau juga merupakan sesuatu yang tak kalah pentingnya untuk kita lakukan, agar kita betul-betul tahu dimana keunggulan orang-orang tua kita dulu dan dimana pula titik lemah generasi kita sekarang.
Diskusi dan
Pertanyaan Ringkasan Jawaban Diskusi:
1. Deri Rizal Generasi Muhammadiyah sekarang terlena dengan kejayaan masa lalu, apa kira-kira yang menjadi pembeda AMM sekarang dengan AMM masa lalu?
1) Angkatan Muda Muhammadiyah dulu lebih Aplikatif tetapi sekarang lebih Teoritis
2) Syafe’i Ma’arif:
“Muhammadiyah itu melelahkan Insya Allah membahagia kan”, “ Dakwah menyatukan, politik memecah belah”
3) Amien Rais: “Muhamamdiyah harus menjalankan High Politik”
4) Muhammadiyah tidak kemana-mana tetapi ada dimana-mana
5) Kader Muhammadiyah itu membangun rumah gadang
6) Muhamamdiyah itu memperbanyak kawan dan menghindari lawan, sebagai pelopor, pelansung, dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah
2. Rafiqul Amin Hasyim ‘Asy’ari dan Syekh Jamil Jambek sama-sama berguru ke Syekh Imam al-Khatib al-Minang Kabawi, kenapa mereka setelah pulang ke Indonesia berbeda dalam penerapannya?
KH.A.Dahlan dan Syekh Jamil Jambek guru utamanya Syekh Khatib al-Minang kabawi akan tetapi Hasyim Asy-‘Ari tidak
3. Fitri Apakah Muhammadiyah dahulu berkembang karena didorong oleh istri-istri mereka? Sehingga menjadi cikal bakal berdirinya Muhammadiyah?
Mereka ada yang berjuang bersama ada juga yang tidak
4. Desi Asmaret Kenapa Muhammadiyah disebut sebagai Wahabiyah?
Kenapa ada buku yang mengatakan Fikih KH.A.Dahlan itu dulunya adalah Fikih NU? Apa maksudnya? Muhammadiyah memang meniru semangat wahabi tetapi Muhammadiyah itu mempunyai nilai-nilai kritis berfikir orang Muhammadiyah berkembang sedangkan naluri politik NU sangat tinggi.
Masa-masa awal Muhammadiyah belum mengkaji masalah fikih, sehingga lahirlah Majelis Tarjih untuk mendalami masalah fikih tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar